Jumat, 07 Juni 2013

Perjalanan

aku masih terapung di samudra dan tak tahu dimana letak barat atau timur.. aku hanya terdiam takala ombak menyeretku yang kuinginkan hanya menemukan pulau hararapan.. aku bertanya pada ikan kecil,sering ku ceritakan pada angin, aku selalu mengadu pada lautan tapi apa jawab mereka...mereka diam membisu,mereka gelengkan kepala, mereka, mentertawakan aku, aku bosan... aku marah... aku menangis... aku benci semuanya... suatu hari aku bertemu dengan seekor paus tua, dia ramah dan juga baik dia selalu menceritakan keindahan di dasar lautan dan dia ingin mengajaku ke dunianya, dia berkata "wahai anak muda..jika engkau mau ikut denganku ke dasar laut, engkau akan mendapatkan apa yang kau inginkan (sambil tersenyum dia melanjutkan) engkau ingin makanan..? selalu ada, kau tak usah repot membuatnya, harta kekayaan..? banyak kau tinggal ambil, wanita cantik..? kau tinggal tunjuk...semua tersedia di sana, kurang apa semua itu ? buat apa kau repot-repot mencari pulau itu, tempat itu tidak ada, itu hanya hayalan saja, aku tertunduk, tapi hati kecilku diam-diam keluar dan menasehatiku "wahai anak muda, kau ini bangsa manusia bukan seperti dia yang biasa hidup di dasar lautan, engkau terapung saja sudah hampir mati, apalagi menyelam sampai dasar lautan, kau akan mati sia2, bukan kebahagiaan yang akan kau dapatkan malah sebaliknya kau akan celaka... ayolah berfikir, gunakan akal sehatmu... (lama aku terdiam untuk menjawabnya) "terima kasih...engkau mau mengajak aku ke duniamu, aku lebih memilih untuk meneruskan perjalananku mencari pulau harapan." (terlintas kekecewaan di wajah sang paus) baiklah kalau itu pilihanmu, aku tidak akan memaksamu. beberapa hari kemudian...ku lihat bayangan hitam yang berdiri sempoyongan ku lambaikan tanganku dengan suara parau aku meminta pertolongan aku tidak tahu bayangan hitam itu malaikat pencabut nyawakah..? atau dewa penolong yang akan menuntunku menuju pulau harapan. bayangan hitam itu menghampiriku perlahan, sampai di hadapanku baru ku lihat dengan jelas bayangan hitam tadi itu adalah sebuah rakit kayu dengan layar putih kusam dan seorang tua berada pd rakit kayu itu, dia mengucapkan salam "asalamualaikum wahai anak muda", akupun langsung menjawabnya"waalaikum salam wahai orang tua"(dalam hatiku ada kegembiraan yang teramat sangat) akupun bertanya "wahai orang tua apakah kau akan menuju pulau harapan ?" (sambil tersenyum) diapun menjawab "betul wahai anak muda (dalam hatiku terus memuji atas kebesaran Nya, karena aku telah bertemu dengan seseorang yang akan mengantarku ke pulau harapan) akupun bertanya lagi "wahai orang tua apakah pulau harapan itu sudah dekat ataukah masih jauh? " orang tua itu menjawab "kira-kira 7 hari perjalanan dengan rakit ku ini." sesaat kemudian orang tua itu menunduk dan berkata dengan pelan "tapi maafkan aku wahai anak muda rakit ku ini tidak bisa untuk di naiki oleh dua orang, karena rakit ku ini telah rapuh oleh badai kemarin hingga banyak kayu yang terlepas dari ikatanya" akupun menjawabnya "tidak apa-apa wahai orang tua, perbolehkan aku berpegangan pada rakit mu" orang tua itu tersenyum sambil berkata"baiklah anak muda berpeganganlah yang kuat kita akan sama-sama menuju pulau harapan" batinku bersorak dan tak putus aku ucapkan puji syukur atas pertolongan Nya. aku terhanyut dalam kegembiraan ku, akupun terlena entah kapan pegangan tangan ku terlepas dari rakit orang tua itu, ketika ku terjaga aku tidak bersama orang tua dan rakitnya itu, yang ku lihat hanya gelap malam dan gemerlap bintang yang menatapku sambil mengajak ku untuk menari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar