Kamis, 05 Februari 2015

ketika bung karno terusir dari istana negara

"Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” (Soekarno, 1967) Tak lama setelah mosi tidak percaya parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dam MPRS menunjuk Suharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam. Bung Karno tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya. Wajah-wajah tentara yang mengusir Bung Karno tidak bersahabat lagi. "Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang!". Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. "Mana kakak-kakakmu" kata Bung Karno. Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata "Mereka pergi ke rumah Ibu". Rumah Ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru. Bung Karno berkata lagi "Mas Guruh, Bapak tidak boleh lagi tinggal di Istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu punya negara". Kata Bung Karno, Bung Karno lalu melangkah ke arah ruang tamu Istana, disana ia mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang setia. Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan karena para ajudan bung karno sudah ditangkapi karena diduga terlibat Gestapu. "Aku sudah tidak boleh tinggal di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun, Lukisan-lukisan itu, Souvenir dan macam-macam barang. Itu milik negara. Semua ajudan menangis saat tau Bung Karno mau pergi "Kenapa bapak tidak melawan, kenapa dari dulu bapak tidak melawan..." Salah satu ajudan separuh berteriak memprotes tindakan diam Bung Karno. "Kalian tau apa, kalau saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu sulit jikalau perang dengan Belanda jelas hidungnya beda dengan hidung kita. Perang dengan bangsa sendiri tidak, wajahnya sama dengan wajahmu...keluarganya sama dengan keluargamu, lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara". tegas bung karno kepada ajudannya. Tiba-tiba beberapa orang dari dapur berlarian saat mendengar Bung Karno mau meninggalkan Istana. "Pak kami memang tidak ada anggaran untuk masak, tapi kami tidak enak bila bapak pergi, belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak agak enak dari biasanya". Bung Karno tertawa "Ah, sudahlah sayur lodeh basi tiga itu malah enak, kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa..." Di hari kedua saat Bung Karno sedang membenahi baju-bajunya datang perwira suruhan Orde Baru. "Pak, Bapak harus segera meninggalkan tempat ini". Beberapa tentara sudah memasuki ruangan tamu dan menyebar sampai ke ruang makan. Mereka juga berdiri di depan Bung Karno dengan senapan terhunus. Bung Karno segera mencari koran bekas di pojok kamar, dalam pikiran Bung Karno yang ia takutkan adalah bendera pusaka akan diambil oleh tentara. Lalu dengan cepat Bung Karno membungkus bendera pusaka dengan koran bekas, ia masukkan ke dalam kaos oblong, Bung Karno berdiri sebentar menatap tentara-tentara itu, namun beberapa perwira mendorong tubuh Bung Karno untuk keluar kamar. Sesaat ia melihat wajah Ajudannya Maulwi Saelan ( pengawal terakhir bung karno ) dan Bung Karno menoleh ke arah Saelan. "Aku pergi dulu" kata Bung Karno dengan terburu-buru. "Bapak tidak berpakaian rapih dulu, Pak" Saelan separuh berteriak. Bung Karno hanya mengibaskan tangannya. Bung Karno langsung naik VW Kodok, satu-satunya mobil pribadi yang ia punya dan meminta sopir diantarkan ke Jalan Sriwijaya, rumah Ibu Fatmawati. Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya duduk seharian saja di pojokan halaman, matanya kosong. Ia meminta bendera pusaka dirawat hati-hati. Bung Karno kerjanya hanya mengguntingi daun-daun di halaman. Kadang-kadang ia memegang dadanya yang sakit, ia sakit ginjal parah namun obat yang biasanya diberikan sudah tidak boleh diberikan. Sisa obat di Istana dibuangi. Suatu saat Bung Karno mengajak ajudannya yang bernama Nitri gadis Bali untuk jalan-jalan. Saat melihat duku, Bung Karno kepengen duku tapi dia tidak punya uang. "Aku pengen duku, ...Tru, Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang" Nitri yang uangnya pas-pasan juga melihat ke dompetnya, ia merasa cukuplah buat beli duku sekilo. Lalu Nitri mendatangi tukang duku dan berkata "Pak Bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil". Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke arah Bung Karno. "Mau pilih mana, Pak manis-manis nih " sahut tukang duku dengan logat betawi kental. Bung Karno dengan tersenyum senang berkata "coba kamu cari yang enak". Tukang Duku itu mengernyitkan dahinya, ia merasa kenal dengan suara ini. Lantas tukang duku itu berteriak "Bapak...Bapak....Bapak...Itu Bapak...Bapaak" Tukang duku malah berlarian ke arah teman-temannya di pinggir jalan" Ada Pak Karno, Ada Pak Karno...." mereka berlarian ke arah mobil VW Kodok warna putih itu dan dengan serta merta para tukang buah memberikan buah-buah pada Bung Karno. Awalnya Bung Karno tertawa senang, ia terbiasa menikmati dengan rakyatnya. Tapi keadaan berubah kontan dalam pikiran Bung Karno, ia takut rakyat yang tidak tau apa-apa ini lantas digelandang tentara gara-gara dekat dengan dirinya. "Tri, berangkat ....cepat" perintah Bung Karno dan ia melambaikan ke tangan rakyatnya yang terus menerus memanggil namanya bahkan ada yang sampai menitikkan air mata. Mereka tau pemimpinnya dalam keadaan susah. Mengetahui bahwa Bung Karno sering keluar dari Jalan Sriwijaya, membuat beberapa perwira pro Suharto tidak suka. Tiba-tiba satu malam ada satu truk ke rumah Fatmawati dan mereka memindahkan Bung Karno ke Bogor. Di Bogor ia dirawat oleh Dokter Hewan!... Tak lama setelah Bung Karno dipindahkan ke Bogor, datanglah Rachmawati, ia melihat ayahnya dan menangis keras-keras saat tau wajah ayahnya bengkak-bengkak dan sulit berdiri. Saat melihat Rachmawati, Bung Karno berdiri lalu terhuyung dan jatuh. Ia merangkak dan memegang kursi. Rachmawati langsung teriak menangis. Malamnya Rachmawati memohon pada Bapaknya agar pergi ke Jakarta saja dan dirawat keluarga. "Coba aku tulis surat permohonan kepada Presiden" kata Bung Karno dengan suara terbata. Dengan tangan gemetar Bung Karno menulis surat agar dirinya bisa dipindahkan ke Jakarta dan dekat dengan anak-anaknya. Rachmawati adalah puteri Bung Karno yang paling nekat. Pagi-pagi setelah mengambil surat dari bapaknya, Rachma langsung ke Cendana rumah Suharto. Di Cendana ia ditemui Bu Tien yang kaget saat melihat Rachma ada di teras rumahnya. "Lhol, Mbak Rachma ada apa?" tanya Bu Tien dengan nada kaget. Bu Tien memeluk Rachma, setelah itu Rachma bercerita tentang nasib bapaknya. Hati Bu Tien rada tersentuh dan menggenggam tangan Rachma lalu dengan menggenggam tangan Rachma bu Tien mengantarkan ke ruang kerja Pak Harto. "Lho, Mbak Rachma..ada apa?" kata Pak Harto dengan nada santun. Rachma-pun menceritakan kondisi Bapaknya yang sangat tidak terawat di Bogor. Pak Harto berpikir sejenak dan kemudian menuliskan memo yang memerintahkan anak buahnya agar Bung Karno dibawa ke Djakarta. Diputuskan Bung Karno akan dirawar di Wisma Yaso. Bung Karno lalu dibawa ke Wisma Yaso, tapi kali ini perlakuan tentara lebih keras. Bung Karno sama sekali tidak diperbolehkan keluar dari kamar. Seringkali ia dibentak bila akan melakukan sesuatu, suatu saat Bung Karno tanpa sengaja menemukan lembaran koran bekas bungkus sesuatu, koran itu langsung direbut dan ia dimarahi. Kamar Bung Karno berantakan sekali, jorok dan bau. Memang ada yang merapikan tapi tidak serius. Dokter yang diperintahkan merawat Bung Karno, dokter Mahar Mardjono nyaris menangis karena sama sekali tidak ada obat-obatan yang bisa digunakan Bung Karno. Ia tahu obat-obatan yang ada di laci Istana sudah dibuangi atas perintah seorang Perwira Tinggi. Mahar mardjono hanya bisa memberikan Vitamin dan Royal Jelly yang sesungguhnya hanya madu biasa. Jika sulit tidur Bung Karno diberi Valium, Sukarno sama sekali tidak diberikan obat untuk meredakan sakit akibat ginjalnya tidak berfungsi. Banyak rumor beredar di masyarakat bahwa Bung Karno hidup sengsara di Wisma Yaso, beberapa orang diketahui diceritakan nekat membebaskan Bung Karno. Bahkan ada satu pasukan khusus KKO dikabarkan sempat menembus penjagaan Bung Karno dan berhasil masuk ke dalam kamar Bung Karno, tapi Bung Karno menolak untuk ikut karena itu berarti akan memancing perang saudara. Pada awal tahun 1970 Bung Karno datang ke rumah Fatmawati untuk menghadiri pernikahan Rachmawati. Bung Karno yang jalan saja susah datang ke rumah isterinya itu. Wajah Bung Karno bengkak-bengkak. bk-nikahnya-rachmawati Ketika tau Bung Karno datang ke rumah Fatmawati, banyak orang langsung berbondong-bondong ke sana dan sesampainya di depan rumah mereka berteriak "Hidup Bung Karno....hidup Bung Karno....Hidup Bung Karno...!!!!!" Sukarno yang reflek karena ia mengenal benar gegap gempita seperti ini, ia tertawa dan melambaikan tangan, tapi dengan kasar tentara menurunkan tangan Sukarno dan menggiringnya ke dalam. Bung Karno paham dia adalah tahanan politik. Masuk ke bulan Februari penyakit Bung Karno parah sekali ia tidak kuat berdiri, tidur saja. Tidak boleh ada orang yang bisa masuk. Ia sering berteriak kesakitan. Biasanya penderita penyakit ginjal memang akan diikuti kondisi psikis yang kacau. Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi tentara pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu tentara yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu. Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno. "Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik" ujar istri bung hatta. Hatta menoleh pada isterinya dan berkata "Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kami itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini". Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung Karno. Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan "Bagaimana kabarmu, No" kata Hatta ia tercekat mata Hatta sudah basah. Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het met Jou?" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda - Bagaimana pula kabarmu, Hatta - Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil. Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang menyesakkan dada. Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan.

Jumat, 07 Juni 2013

Gadis kecil dari timur

Dia datang dari ujung timur pulau jawa bersama keluarganya untuk liburan sekolah, rumah bibi gadis kecil itu bersebelahan dengan rumahku orang tua kami yang mengenalkan kami berdua pertama kami malu untuk bersalaman dan berkenalan ibuku membujuku “ayo nak, ajak dia bermain”, akupun mengajak gadis kecil itu keluar untuk bermain dalam hitungan menit kami sudah akrab, tiap pagi hingga sore hari kami bermain bersama dan terkadang kami lupa untuk makan siang saking asiknya bermain sampai bibi dan sepupu gadis kecil itu mencari kami tapi kami sengaja bersembunyi di rimbunya taman kecil di sebelah rumah tanpa sengaja sepupunya menemukan kami dan kami melarikan diri sambil tertawa cekikikan membuat sepupu gadis itu setengah berteriak “heeiii… makan siang duluuu…!” dan serentak kami menjawab bersamaan “iii…..yaaaa…. sebentar lagiii…!. Sambil tertawa kecil kami memasuki rumah bibi gadis kecil itu kamipun makan bersama tiada hari tanpa senyum gadis kecil yang ceria itu walaupun bahasa kami berbeda tapi kami saling mengerti apa yang kami ucapkan, pernah suatu sore hampir senja kami masih bermain di belakang rumah sampai orang tua kamigeleng-geleng kepala, dengan sabar beliau berkata “sudah sore nak, ayo… mandi dulu… kalian dari pagi sampe sore begini main terus apa kalian kalo besar nanti mau jadi pengantin ?”. kamipun menjawab sambil tersenyum “ iyaaa..!”. entah waktu itu kami tidak mangerti apa itu pengantin, ketika musim liburan sekolah hampir habis gadis kecil itu kembali ke kotanya bersama keluarganya dan kamipun berpisah, tiada lagi kegembiraan dan keceriaan di taman kecil sebelah rumah ataupun pekarangan di belakang rumah, aku selalu menunggu pada tiap liburan sekolah tapi gadis kecil dari ujung timur pulau jawa ini tak pernah kembali lagi. Gadis kecil itu muncul dalam bayang mimpiku, nama itu masih kuingat terlekat kuat dalam otak kecilku setelah 20 tahun lebih berlalu bayangan ceria gadis kecil itu muncul kembali namun sayang hingga kini gadis kecil itu tak pernah ku jumpai dan kenangan masa kecil yang indah itu tak akan pernah terulang. losari, july 27 2012

Perjalanan

aku masih terapung di samudra dan tak tahu dimana letak barat atau timur.. aku hanya terdiam takala ombak menyeretku yang kuinginkan hanya menemukan pulau hararapan.. aku bertanya pada ikan kecil,sering ku ceritakan pada angin, aku selalu mengadu pada lautan tapi apa jawab mereka...mereka diam membisu,mereka gelengkan kepala, mereka, mentertawakan aku, aku bosan... aku marah... aku menangis... aku benci semuanya... suatu hari aku bertemu dengan seekor paus tua, dia ramah dan juga baik dia selalu menceritakan keindahan di dasar lautan dan dia ingin mengajaku ke dunianya, dia berkata "wahai anak muda..jika engkau mau ikut denganku ke dasar laut, engkau akan mendapatkan apa yang kau inginkan (sambil tersenyum dia melanjutkan) engkau ingin makanan..? selalu ada, kau tak usah repot membuatnya, harta kekayaan..? banyak kau tinggal ambil, wanita cantik..? kau tinggal tunjuk...semua tersedia di sana, kurang apa semua itu ? buat apa kau repot-repot mencari pulau itu, tempat itu tidak ada, itu hanya hayalan saja, aku tertunduk, tapi hati kecilku diam-diam keluar dan menasehatiku "wahai anak muda, kau ini bangsa manusia bukan seperti dia yang biasa hidup di dasar lautan, engkau terapung saja sudah hampir mati, apalagi menyelam sampai dasar lautan, kau akan mati sia2, bukan kebahagiaan yang akan kau dapatkan malah sebaliknya kau akan celaka... ayolah berfikir, gunakan akal sehatmu... (lama aku terdiam untuk menjawabnya) "terima kasih...engkau mau mengajak aku ke duniamu, aku lebih memilih untuk meneruskan perjalananku mencari pulau harapan." (terlintas kekecewaan di wajah sang paus) baiklah kalau itu pilihanmu, aku tidak akan memaksamu. beberapa hari kemudian...ku lihat bayangan hitam yang berdiri sempoyongan ku lambaikan tanganku dengan suara parau aku meminta pertolongan aku tidak tahu bayangan hitam itu malaikat pencabut nyawakah..? atau dewa penolong yang akan menuntunku menuju pulau harapan. bayangan hitam itu menghampiriku perlahan, sampai di hadapanku baru ku lihat dengan jelas bayangan hitam tadi itu adalah sebuah rakit kayu dengan layar putih kusam dan seorang tua berada pd rakit kayu itu, dia mengucapkan salam "asalamualaikum wahai anak muda", akupun langsung menjawabnya"waalaikum salam wahai orang tua"(dalam hatiku ada kegembiraan yang teramat sangat) akupun bertanya "wahai orang tua apakah kau akan menuju pulau harapan ?" (sambil tersenyum) diapun menjawab "betul wahai anak muda (dalam hatiku terus memuji atas kebesaran Nya, karena aku telah bertemu dengan seseorang yang akan mengantarku ke pulau harapan) akupun bertanya lagi "wahai orang tua apakah pulau harapan itu sudah dekat ataukah masih jauh? " orang tua itu menjawab "kira-kira 7 hari perjalanan dengan rakit ku ini." sesaat kemudian orang tua itu menunduk dan berkata dengan pelan "tapi maafkan aku wahai anak muda rakit ku ini tidak bisa untuk di naiki oleh dua orang, karena rakit ku ini telah rapuh oleh badai kemarin hingga banyak kayu yang terlepas dari ikatanya" akupun menjawabnya "tidak apa-apa wahai orang tua, perbolehkan aku berpegangan pada rakit mu" orang tua itu tersenyum sambil berkata"baiklah anak muda berpeganganlah yang kuat kita akan sama-sama menuju pulau harapan" batinku bersorak dan tak putus aku ucapkan puji syukur atas pertolongan Nya. aku terhanyut dalam kegembiraan ku, akupun terlena entah kapan pegangan tangan ku terlepas dari rakit orang tua itu, ketika ku terjaga aku tidak bersama orang tua dan rakitnya itu, yang ku lihat hanya gelap malam dan gemerlap bintang yang menatapku sambil mengajak ku untuk menari.

Hidup adalah pilihan

Jika seseorang memilih pergi dari hidupmu .. Maka gunakanlah keadaan itu sebagai untuk kau belajar keikhalasan.. Jika seseorang memilih dia dari pada kamu .. Maka gunakanlah waktu itu untuk kau belajar cara bersabar dalam melupakannya.. Jika seseorang memilih terluka asalkan kau bahagia.. Berarti ia ingin menilai kedewasaan mu dalam memilih mana yang terbaik untukmu.. dan jika seseorang memilih tuk menjauh darimu.. Maka janganlah merasa kau tak sempurna .. Kadang dia yang hanya merasa tak pantas untukmu..

Hidup adalah belajar

Hidup adalah belajar... Belajar bersyukur meski tak cukup, Belajar ikhlas meski tak rela, Belajar memberi meski tak seberapa, Belajar memahami meski tak sehati, Belajar taat meski berat, Belajar sabar meski terbebani, Belajar setia meski tergoda, Belajar mengasihi meski disakiti, Belajar tenang meski gelisah, Belajar percaya meski susah, Tetap semangat menggapai hari esok..!!

Perjuangan

Inti perjuangan adalah menjalani dengan usaha dan ditambahi dengan keiklasan. ALLAH sebenarnya telah menyediakan penyelesaian atas kesulitan yang kita hadapi, namun ALLAH tidak segera menurunkan penyelesaiannya karena ingin mengetahui seberapa besarnya cinta kita pada Nya. Ilmu itu didapat dengan lidah yang gemar bertanya dan akal yang mau berfikir. Kita menilai diri sendiri berdasarkan apa yang kita perbuat dan orang lain akan menilai kita berdasarkan apa yang telah kita perbuat.

Rabu, 31 Oktober 2012

Putri bercadar

Putri bercadar di balik tirai…
nama mu tak terukir dalam catatan harianku
wajah mu tak terlukis dalam mimpiku
indah suara mu tak terekam dalam pita batinku
engkau adalah misteri dalam kehidupanku
namun…
kau hidup dalam aliran darahku
menyemangati dalam mengarungi hidup ini
Putri bercadar di balik tirai…
ku harap engkau menjadi teman perjuangan

merenda masa depan tuk menapaki jalan Ilahi
yang akan ku cintai dalam hidup dan mati
Putri bercadar di balik tirai…
aku tak tahu siapa engkau
Tuhan masih menjaganya untuku
karena…
engkau adalah hadiah dari Tuhan untuku
jika tiba saatnya nanti semuanya akan terang
seperti mentari yang menyinari semesta.